Tuesday, January 27, 2026

Menjadi Guru yang Inovatif dan Ideal di Era Pendidikan 4.0

 Menjadi Guru yang Inovatif dan Ideal di Era Pendidikan 4.0

Purna Alfani Azhar dan Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum (Dosen PBSI FKIP UNS & Pegiat Literasi Arfuzh Ratulisa)


Implementasi sesungguhnya dari Kurikulum Merdeka adalah menciptakan suasana pendidikan yang lebih bisa diterima oleh siswa maupun guru. Jika selama ini, konsep pendidikan di Indonesia lebih mengedepankan aspek pengetahuan. Maka, pada kurikulum terbaru ini, konsep pendidikan lebih dibuat adaptif khususnya terhadap tantangan yang akan dihadapi siswa di masa yang akan datang khususnya di era revolusi industri teknologi 4.0.

Kurikulum baru ini memang cenderung lebih fleksibel, selain memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan minat dan bakatnya, arah pendidikan (pendidikan 4.0) juga lebih dimaksimalkan pada aplikasi teknologi yang memanfaatkan internet of things (IoT) sebagai sumber daya utamanya. Kondisi ini, tentunya menuntut tenaga pendidik yang memiliki visi ke depan dalam hal melakukan inovasi pembelajaran agar lebih adaptif dan bisa diterima oleh siswa. 

Metode-metode pembelajaran juga tak lagi terkesan monoton dengan metode ceramah, tapi lebih kepada membangun sikap aktif dan partisipatif dari siswa misalnya melalui diskusi. Selain itu juga, seorang guru yang inovatif juga  jeli memanfaatkan teknologi untuk menunjang proses pembelajaran sekaligus mengenalkan kepada siswa tentang pentingnya teknologi tak hanya untuk pendidikan tapi juga bagi kehidupan sesuai dengan konsep IoT. 

Oleh karena itu, guru inovatif menjadi sebuah keharusan dalam sebuah pendidikan, yang bukan hanya bermanfaat bagi diri guru itu sendiri dalam mengembangkan keahlian dan kemampuannya tapi juga bermanfaat bagi siswa mereka di masa yang akan datang.

Dengan kata lain, guru inovatif adalah tonggak utama keberhasilan sebuah pendidikan khususnya di era pendidikan 4.0 dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang lebih siap menghadapi tantangan global dalam revolusi industri. 

Dalam posisi inilah seorang guru inovatif bisa menjalankan perannya, bukan hanya sebagai tenaga pendidik tapi juga mampu memahami karakter tiap siswanya secara khusus termasuk mengamati kecenderungan terhadap minat dan bakat yang ada pada diri tiap siswa.

Membangun suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan memanfaatkan teknologi serta membangun interaksi siswa secara langsung dalam tiap materi pembelajaran melalui cara yang lebih bisa diterima oleh siswa bahkan dengan mengadopsi hal-hal yang bersifat kekinian pada trend remaja amat mungkin membuat suasana belajar terasa lebih ideal dan bisa dinikmati dengan sepenuh hati tak hanya oleh siswa tapi juga guru.